Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2020

AYO IKUT BEASISWA DATAPRINT

INFO BEASISWA DATAPRINT 


Hallo sahabat DataPrint. Dikarenakan kondisi Pandemi Covid19 yang terjadi saat ini, semua aktifitas menjadi terbatas dan beberapa kegiatan perekonomian juga mengalami keterbatasan jalur pendistribusian dan penutupan sementara. kami memahami kesulitanmu utk memperoleh produk DataPrint yang berisi kode kupon untuk mengikuti Program Beasiswa DataPrint.

Maka dari itu kami memperpanjang masa pendaftaran Beasiswa DataPrint 2020 sampai tanggal 30 November 2020 dan pengumumannya menjadi tanggal 10 Desember 2020.

Untuk periode 2020, dapat diikuti oleh teman teman yang sudah pernah mendapat beasiswa DataPrint periode 1 & 2 tahun lalu.

Kode kupon yang berlaku tahun 2019 & 2020.

Untuk jumlah penerima sementara mengalami perubahan. Doakan supaya segalanya bisa normal kembali sehingga bisa lebih banyak yang mendapatkan manfaat dari Beasiswa DataPrint.

Info lengkap klik beasiswadataprint.com

Ayo bersama dukung Program Beasiswa DataPrint dengan selalu menggunakan Produk DataPrint.

DataPrint sahabat printer anda

Sumber: https://beasiswadataprint.com/pengumuman-penting-beasiswa-dataprint-2020/

Created by: Rico Febriansyah/Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang



Senin, 28 Oktober 2019

Mahasiswa : "Bernilai" atau "Tidak Ternilai"



Dunia perguruan tinggi selalu menjadi permasalahan bagi mereka yang mengejar nilai tinggi dengan menghalalkan segala cara. Sehingga tidak sedikit tujuan dari pendidikan untuk mendidik menjadi tidak tercapai. Mahasiswa masih banyak yang hanya untuk mendapatkan nilai baik atau IPK yang bagus dengan cara menyontek ketika UTS atau UAS. Ya, ini seperti budaya bagi dunia pendidikan kita, bahwa saya dulu beranggapan budaya ini hanya ditemuin di bangku sekolahan tetapi nyatanya tidak, sungguh miris karena mahasiswa juga masih sangat kental dengan budaya ini. Tapi Sobat, saya tidak mengupas tentang budaya ini tapi melainkan terkait dengan nilai. Nilai yang dimaksud bukan nilai mata uang ya Sobat..., Hehehe. Tapi nilai menjadi seorang Mahasiswa.

Nilai ini ibarat identitas seorang intelektual, karena itulah yang membuat Mahasiswa itu berbeda dengan mereka yang bukan Mahasiswa. Nilai yang dimaksud ini bukan hanya sekedar nilai IPK ya sobat, melainkan nilai-nilai tambah (Plus) yang harus dimiliki oleh seorang Mahasiswa. Jika hanya Nilai IPK yang menjadi tujuan akhir dari seorang Mahasiswa, maka mahasiswa hanya mendapatkan label "Bernilai". Mengapa?, karena itu tidak memberikan dampak untuk banyak orang, tapi jika ingin mendapatkan label "Tidak Ternilai". Maka Mahasiswa tidak hanya mendapatkan nilai IPK yang tinggi melainkan harus memiliki nilai tambah yang memberi manfaat bagi banyak orang seperti menjadi seorang Relawan, Organisator, Inovator, dll. Karena dengan menjadi Mahasiswa yang bermanfaat bagi banyak orang, maka Mahasiswa sudah menjadi sebaik-baiknya manusia. Hal ini sesuai dengan hadits Rasul SAW yang bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Penerapan prinsip nilai tambah sebetulnya  sudah dianjurkan oleh agama Islam dengan amal saleh. Konsep amal saleh ini bukan hanya dalam kehidupan personal melainkan diterapkan dalam kehidupan sosial yang berdampak pada banyak orang atau orang lain, seperti memindahkan duri dari jalan, memberikan senyum, sampai menanam pohon di depan rumah, itu semua mendapatkan pahala karena memberikan nilai lebih kepada lingkungan, atau seperti Bill Gates yang terkenal kaya raya dengan kekayaan mencapai 60 miliar dolar, tetapi yang membuatnya tidak ternilai harganya adalah Add Value yang diciptakannya pada masyarakat dunia ratusan atau ribuan kali dari jumlah itu. Tentunya Sobat semua pasti merasakan manfaat dari karya yang dihasilkannya berupa penggunaan Windows dan berbagai aplikasinya. Coba bayangkan kalau kita masih memakai mesin tik.

Mahasiswa jika hanya ingin bernilai, maka tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup tamatan SMA kemudian bekerja maka akan mendapatkan gaji, itu hanya bernilai. Tetapi Mahasiswa itu "Tidak Ternilai", sehingga orang tidak bisa membayarnya hanya dengan nilai uang melainkan tidak dapat dinilai karena besarnya manfaat dan dampak yang diberikannnya kepada banyak orang. Mahasiswa itu bukan seperti mesin, tetapi harus menjadi penggerak mesin. Maksudnya mengetahui arah dan tujuan akhir dari hidupnya. Jika dengan mendapatkan nilai yang tinggi kemudian menyontek, berarti mahasiswa belum tahu arah dan tujuan hidupnya. Karena dia tidak tahu, dengan dia seperti itu maka dia akan menjadi manusia yang kaku, yang hanya menunggu belas kasihan orang lain. Maka apa  bedanya dengan  Gelandangan?. Maka Mahasiswa harus membuat perbedaan dirinya, dengan menjadi Mahasiswa yang tidak ternilai, sehingga marwah Mahasiswa untuk menjadi Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock selamanya akan hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi pertiwi ini. Jika Mahasiswa sudah dapat menjalankan tugasnya sebagai orang yang tidak ternilai, maka sudah pasti akan sedikit para sarjana yang meminta belas kasihan dari pemerintah untuk mendapatkan pekerjaan. Sehingga, mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa dapat menjadi manusia mandiri yang dapat berdiri di atas kaki sendiri dalam menjalankan kehidupannya. So, Never stop spreading benefits.

PLG, 27-10-2019

Selasa, 08 Januari 2019

“ MENERAPKAN SIKAP BERBHINEKA DENGAN MENJADI MAHASISWA YANG NASIONALISME “


Penulis : Rico Febriansyah
Calon Penulis, Abdi Negara, dan Penghuni Surga



Negara Kesatuan Republik Indonesia dianugerahi wilayah yang luas dan kekayaan alam yang beraneka ragam untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk, di Indonesia terdapat banyak etnis, suku, agama, dan budaya. Keadaan geografis Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan menyebabkan penduduk yang menempati satu pulau atau sebagian dari satu pulau tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 mencapai 255 juta jiwa dengan pada tahun 2010 tercatat ada 2500 bahasa daerah dan terdiri dari 1340 suku bangsa. Selain itu di negara Indonesia terdapat 6 agama dan terdapat beragam adat istiadat dan budaya hal inilah yang menjadikan negeri ini menjadi negeri dengan kekayaan dan keberagaman bangsanya.
Bhineka Tunggal Ika yang merupakan semboyan negeri ini yang mengandung pengertian yaitu “berbeda-beda tetapi satu jua” yang menjadikan Bhineka Tunggal Ika oleh pendiri bangsa diberikan penafsiran baru karena dinilai relevan dengan keperluan strategis bangsa Indonesia, yang memiliki makna, walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, budaya, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan sebangsa dan setanah air. Selain itu lahirnya sumpah pemuda tidak terlepas juga dari semboyan negara ini yaitu Bhineka Tunggal Ika, oleh karena itu pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa ini harus dapat mengawal Bhineka Tunggal Ika agar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat tercapai dengan meneruskan perjuangan para pahlawan negeri ini.
Mahasiswa yang merupakan para pemuda dan pemudi yang mempunyai prinsip sebagai Agent Of Change, Social Control, dan Iron Stock harus dapat menjadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai dasar pegangan hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar terciptanya kedamaian dan ketentraman di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Hal ini tidak mudah dilakukan oleh mahasiswa jika belum ada sikap kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, oleh sebab itu sikap nasionalisme dalam diri mahasiswa harus dibentuk karena dengan sikap nasionalisme mahasiswa dapat menjalankan serta ikut serta dalam mengawal semboyan negeri ini yaitu Bhineka Tunggal ika. Dalam membentuk sikap nasionalisme generasi penerus bangsa ini seluruh lapisan masyarakat harus saling bahu membahu memperkenalkan berbagai kekayaan dan keberagaman bangsa dengan memperkenalkan berbagai keragaman budaya bangsa serta kekayaan sumber daya alam bangsa membuat para generasi muda akan merasa beruntung telah dilahirkan di Indonesia sehingga muncul jiwa nasionalisme untuk menjaga keutuhan dan persatuan tanah air indonesia dan akan menjadikan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa lebih mudah untuk menerapkan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar tercipatnya persatuan indonesia dengan kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan di masyarakat Indonesia.


Polemik Kesetaraan Gender dan Munculnya Kekerasan Berbasis Gender

Media Literasi Rico/Foto Kampanye Anti Kekerasan Gender Penulis : Rico Febriansyah/Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Kekerasan berbasi...

Tulisan Yang Terpopuler